Senin, 24 Januari 2011

laporan hasil observasi terhadap spesies hewan ayam


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
                        Ayam adalah salah satu jenis unggas yang dipelihara oleh masyarakat pada umumnya. Sehingga kita dapat menjumpai ayam dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayam ini bisa juga dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Banyak orang-orang yang sengaja memelihara ayam ini dalam suatu tempat disebut sebagai peternakan ayam atau penangkaran ayam.
                        Kehidupan ayam dimulai dari satu butir telur yang berasal dari induknya. Dari telur yang telah dierami oleh ayam sambil dibolak-balik telurnya agar tetap hangat. Stekah 21 hari, anak ayam menggunakan paruhnya untuk memecah telur agar anak ayam bisa keluar dari cangkangnya. Jika telor tersebut sengaja tidak dierami atau tidak menetas (disebut juga telur wurung), biasanya diambil oleh pemiliknya untuk dimanfaatkan, misalnya dijual, dimasak untuk dikonsumsi sebagai lauk makan atau dijadikan sebagai obat tradisional ataupun jamu penambah darah. Khasiatnya lebih besar ayam kampong yang alami daripada ayam lehr yang merupakan hasil suntikan.
                        Ayam sendiri terdiri dari jenis yang berbeda-beda. Ada yang disebut sebagai ayam hias, ayam sabung, ayam petelor. Ayam hias ialah ayam yang hanya dijadikan sebagi hiasan oleh pemiliknya, misalnya ayam katai yang memiliki bulu yang indah dan memiliki bentuk badan yang kecil tetapi unik. Ayam sabung ialah ayam yang biasanya digunakan oleh pemiliknya untuk dijadikan sebagai permainan sabung, biasanya antar ayam-ayam tersebut diadu oleh masing-masing pemiliknya untuk mengetahui ayam siapakah yang paling kuat dan jago berkelahi diantara ayam-ayam yang lainnya. Ayam petelor adalah ayam yang sengaja diambil telornya untuk keperluan pemeliharanya. Biasanya memproduksi telur antara 250-280 butir per tahun.
B.     Rumusan Masalah
            Masalah yang menjadi fokus pengamatan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana morfologi (bentuk luar) pada ayam, perilaku ayam dan embriologi pada ayam?
2.      Bagaimanakah proses-proses yang terjadi pada siklus kehidupan ayam?
C.     Tujuan Penelitian
            Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini untuk:
1.      Mendeskripsikan morfologi, perilaku dan embriologi pada ayam
2.      Menganalisis proses yang terjadi pada siklus kehidupan serta perkembangbiakkan pada ayam
D.    Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Dapat meningkatkan pengetahuan mengenai ayam dengan segala yang mempengaruhi perkembangbiakan ayam.
2.      Dapat mempermudah penulis maupun pembaca dalam memahami proses-proses yang terjadi pada ayam, serta tahu bagaimana mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Ayam adalah salah satu jenis hewan ternak yang berasal dari kelas aves (unggas). Berikut ini merupakan klasifikasi ilmiah ayam:
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Gallus
Spesies : G. Gallus
Upaspesies : G. G.Gallus Domesticus
Nama Trinomical : Gallus Gallus Domesticus

Jenis varietas ayam ada tiga, yaitu:
a)      Ayam Petelur
Ayam ini tubuhnya relative kecil, produksi telurnya antara 250-280 per tahun. Telur pertama dihasilkan pada saat berumur 5 bulan dan akan terus menghasilkan telur sampai umurnya mencapai 10-12 tahun.
b)      Ayam Pedaging
Ayam ini biasanya mengkonsumsi dua kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram berat tubuhnya. Ayam betina pada umumnya dijual ke pasar pada saat beratnya mencapai antara satu tiga per empat kg sampai dua setengah kg,sedangkan ayam jantan antara tiga kg sampai empat kg. ayam yang semakin cepat pertumbuhannya maka semakin ekonomis untuk dipelihara.
c)      Ayam Berfungsi Ganda
Ayam pada jenis ini merupakan campuran antara ayam petelur dan ayam pedaging. Ayam kampong di Indonesia adalah termasuk jenis ayam ini. Telur ayam jenis ini berwarna coklat dan mereka membesarkan sendiri anak-anaknya.pada umumnya, mereka tidak menghasilkan telur sebanyak ayam petelur dan juga tidak menghasilkan berat tubuh secepat ayam pedaging. Ayam ini berciri khas sebagai ayam yang dipelihara di halaman belakang rumah (terlihat pada gambar no.) peternak akan memperoleh telur ayam untuk konsumsi sehari-hari di samping sesekali memperoleh daging ayam jantan dari kelebihan jumlah yang diperlukan dan daging ayam-ayam tua yang sudah tidak produktif lagi.

2. Morfologi Ayam
Secara fisik luarnya, ayam memiliki bentuk agak mirip seperti burung. Dalam hal ini ayam termasuk dalam kelas aves (unggas). Memiliki paruh yang pendek, kaki untuk berlari dan mengais, mempunyai sayap juga. Jika burung dapat menggunakan sayapnya untuk terbang, sedangkan ayam hanya bisa terbang dalam jarak yang pendek. Misalnya, dari atas pagar yang rendah terbang ke tanah.
Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin. Maksudnya antara ayam jantan dengan ayam netina mempunyai morfologi yang berbeda. Pada ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, mempunyai bulu yang lebat, mempunyai tombel besar, jalu pada cakar di kakinya yang digunakan untuk menyerang dan untuk berjalan di tanah kering, mempunyai ekor yang panjang dan menjuntai.
Sedangkan pada ayam betina berukuran lebih kecil daripada ayam jantan, mempunyai bulu ayam yang lebat dengan tombel (jengger) yang kecil, mempunyai jalu yang pendek atau nyaris tidak kelihatan dan mempunyai ekor  yang pendek.
  1. Perilaku Ayam
Sebagai hewan peliharaan, ayam bisa mengikuti kemana manusia membawanya. Hewan ini sangat adaptif dan bisa dikatakan dapat hidup di sembarang tempat, asalkan tersedia makanan baginya. Karena kebanyakan ayam peliharaan sudah kehilangan kemampuan terbang yang baik, mereka lebih sering menghabiskan waktu di tanah (mengais-ais tanah untuk mendapatkan makanan) atau kadang-kadang di pohon, itu pun di pohon yang ukurannya pendek.
Perilaku ayam dalam perkembangbiakannya itu bermacam-macam. Pada saat akan melakukan perkawinan dengan ayam betina, ayam jantan menampakkan tanda-tanda. Tanda-tanda itu misalnya saja dengan berkokok,lalu mengepakkan kedua sayapnya, tujuannya untuk menunjukkan kejantanannya. Hal tersebut dilakukan juga karena ada rangsangan dari ayam betina.
Saat mempunyai anak, ayam betina melindungi anak-anaknya dengan bulu-bulunya, di bawah dadanya. Jika terdapat gangguan dari luar, maka induk akan mengepakan sayapnya, lalu mematuk makhluk lain yang menyerangnya. Saat anak ayam akan makan, induk memecahkan biji-bijian, lalu dimakan oleh anaknya. Akan tetapi anak ayam tidak boleh mengikuti kemanapun induknya pergi, karena bisa menyebabkan kematian. Bisa karena faktor di luar lingkungan (persaingan) ataupun dari faktor intern (misalnya, tertular penyakit induknya). Oleh karena itu, anak ayam yang baru lahir biasanya setelah satu hari langsung dipisahkan dari induknya dan ditaruh di dalam satu kandang (di Box/ kotak). Saat akan dimasukkan, box tersebut harus dipanasi terlebih dulu, supaya hangat, karena bulu anak ayam yang masih belum tumbuh sempurna. Lalu diberi makan (biji-bijian) sehingga mampu beradaptasi. Baru dilepas ke lingkungan luar jika umurnya sudah 2/3 bulan.
4. Proses Embriologi
Pada awalnya, indospermae (calon individu baru) menggunakan omnion (cadangan makanan yang terdapat pada kuning telur/ vitellus yolk) sebagai nutrisi, lalu sel melakukan pembelahan secara discoidal dengan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
a)      Tahap Blastula
Blastula adalah tahap perkembangan embrio yang terdiri dari blastomer yang belum terdiferensiasi. Pada umumnya blastula berongga bulat atau pipih. Rongga itu berfungsi untuk memberi ruang dan kesempatan gerak sel-sel pada proses gastrulasi.
Kelompok sel-sel di suatu daerah blastulaakhir menunjukkan kemampuan yang berbeda sebagai awal diferensiasi. Peta blastula terdiri dari : epidermal, neuroectodermal; chordadorsalis, mesodermal dan entodermal.
Proses sintesis protein baru pada stadium blastula memang belum aktif pada akhir blastula sintesis DNA maupun RNA baru mulai meningkat sebagai persiapan diferensiasi. Pada blastula ayam dikenal centroblast, periblast dan hypoblast. Untuk keterangan lebih rinci terdapat pada gambar di lampiran IV.

b)      Tahap Morulla
Blastomer pada pembelahan awal berbentuk bulat seperti bentuk telur sebelum membelah. Adanya pengaruh tekanan, permukaan blastomer yang saling bersentuhan menjadi rata tetapi permukaan bebasnya tetap bundar. Bentuk embrio pada stadium ini disebut morulla. Penyusunan kembali blastomer dalam stadium morulla pada ayam (aves) menjadi discoblastula (blastula pipih).
Discoblastula bentuknya seperti cakram, berasal dari telur yang bertipe oligolesital yang mengalami pembelahan secara holoblastik tidak teratur dan telur polilesital yang membelah secara meroblastik. Blastula terdapat di atas Yolk atau jaringan penyalur makanan.

c)      Tahap Grastula
Grastula adalah tingkatan perkembangan embrio dimana terjadi proses pembentukan lapis benih (germ layer). Tanda khas tahap ini adalah terbentuknya calon sistem pencernaan yaitu gastrocoel (archenteron). Pada tingkat ini juga terjadi diferensiasi yang pertama kali yaitu terbentuknya lapis benih ectoderm, mesoderm dan entoderm.
Grastulasi adalah proses yang berlangsung secara dinamik. Terjadi gerakan sel dari satu tempat ke tempat lain, menuju lokasi orga definitif yang akan dibentuk. Keterangan lebih lanjut terdapat pada lampiran V dan lampirab VI.
5.Siklus Kehidupan Ayam
a)      Gametogenesis
Gamet atau sel kelamin mengalami perkembangan dalam tingkatan sebagai berikut :
a.       Tingkat sebagai Calon (Ganosit)
Sel ini dapat dibedakan dengan sel badan karena mempunyai ukuran lebih besar dan sitoplasmanya jernih. Pada tingkatan ini belum dapat dibedakan antara sel kelamin jantan atau betina.
b.      Tingkat Perbanyakan
Dalam tingkat ini calon sel kelamin dapat dibedakan sebagai spermatogonium dan oogonium. Oogonium berukuran relative lebih besar. Masing-masing membelah secara  mitosis beberapa kali menjadi spermatogonium oogium tingkat I, II, III kemudian istirahat.
c.       Tingkat Pertumbuhan
Spermatogonium oogonium tumbuh karena adanya kegiatan sintesis baik berupa transkiripsi maupun translasi. Sel yang sedang tumbuh disebut ankosit. Spermatogonium tumbuh menjadi spermatosit I, sedang oogonium tumbuh menjadi oosit I.
d.      Tingkat Pembelahan Meiosis
Spermatosit I oosit I mengalami pembelahan meiosis dari sel diploid menjadi haploid yaitu spermatosit II oosit II pada meiosis I. Pada meiosis II pembelahan terjadi seperti mitosis saja. Satu sel spermatosit I menjadi 4 sel spermatozoa berfungsi setelah mengalami metamorphosis (spermiogenesis). Satu oosit I menjadi satu sel telur dan tiga buah polosit.
e.       Pengeluaran Sel Kelamin
Sel kelamin yang masak keluar dari tempat pembuatannya.spermatozoa mengalami spermasi sedang telur mengalami ovulasi.

b)      Oogenesis
Oogenesis terjadi dalam ovarium. Pada ayam ovarium hanya satu yang berkembang dari oogonium sampai oosit I. Tingkat pembelahan meiosis terjadi di luar ovarium. Sel telur dipersiapkan untuk kelangsungan hidup dari induk ke perkembangan awal, oleh karena itu dilengkapi dengan cadangan sumber energy, yaitu Vitellus (Yolk) yang terdiri dari protein, lipid dan karbohidrat. Enzim atau prekusornya juga dipersiapkan untuk proses metabolism dalam tubuh. Pada ayam yang berfungsi sebagai vitellus (yolk) ialah pada kuning telur ayam.
Keterangan lebih lanjut terdapat pada lampiran I, II, III.




BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A.    Subjek Penelitian
            Yang menjadi subjek penelitian dalam Penelitian Pengamatan terhadap Spesies Ayam adalah ‘ayam.
            Saya memilih ayam sebagai subjek penelitian dalam penelitian ini karena ayam merupakan salah satu jenis hewan unggas yang mudah untuk diamati oleh kita sebagai manusia yang juga terkadang ada beberapa orang yang sengaja memeliharanya. Ayam pun termasuk jenis hewan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Di sekitar rumah, biasanya berkeliaran banyak ayam yang sedang mencari makanan di luar kandangnya. Terkadang di pekarangan, di tepi selokan-selokan, di kebun ataupun di halaman rumah-rumah penduduk. Terlebih ayam merupakan salah satu jenis ternak unggas yang banyak disukai oleh masyarakat pada umumnya. Karena selain dapat sebagai ayam hias, ayam juga dapat diambil telurnya ataupun dagingnya untuk dikonsumsi oleh kita. Terlebih di daerah saya, banyak tetangga-tetangga yang memelihara ayam sebagai ternak.
B.     Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian yang saya rencanakan ialah meliputi kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), pengolahan data.
Langkah pertama dalam Penelitian Pengamatan terhadap Spesies Ayam adalah. Perencanaan, dalam tahap perencanan segala sesuatu yang akan digunakan dan dilakukan, sehingga pada tahap ini dijadikan pedoman pada tahap melaksanakan tindakan
      (action ).
Langkah Kedua adalah melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan  yang telah ditentukan. Untuk mengetahui apakah yang dilakukan sesuai dengan perencanaan, dan untuk mengetahui hasil pengamatan yang dilakukan diperlukan adanya observasi. Hasil dari observasi ini selanjutnya didiskusikan dengan teman sejawat agar mendapat refkleksi.
Tahap pengolahan data dilakukan dengan cara merenungkan kembali terhadap  proses penelitian yang telah dilakukan baik kekurangan maupun kelebihannya. Lalu dideskripsikan secara naratif dari hasil pengamatan tersebut. Hal ini dikandung maksud untuk menentukan tindakan pada langkah selanjutnya.
  1. Data, Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data kualitatif dan data kuantitatif.  Data kualitatif berkaitan dengan morfologi pada ayam dan perilaku yang terjadi pada ayam, sedangkan kuantitatif berkaitan dengan hasil dari proses embriologi.
                   Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah berupa lembar penelitian dari hasil wawancara (tanya jawab) dengan narasumber yang telah bersedia memberikan penjelasan terkait dengan siklus kehidupan pada ayam.
Data kuantitatif diolah dengan analisis deskriptif  dan  data kuantitatif  dapat diolah dalam bentuk narasi yang menggambarkan kualitas hasil pengamatan terhadap spesies ayam.
  1. Deskripsi Pengamatan
Pelaksanaan penelitian dan pengamatan
a.                   Tahap Perencanaan
Untuk memastikan pelaksanaan penelitian perlu diadakan kembali sarana dan prasarana yang digunakan dalam pengamatan dengan langkah-langkah di bawah ini :
1.      Memeriksa kembali jadwal pengamatan yang telah dibuat.
2.      Memeriksa kembali peralatan yang diperlukan untuk mendokumentasikan gambar ayam itu (kamera digital / kamera handphone)
3.      Memeriksa kembali peralatan yang diperlukan untuk wawancara dengan narasumber (buku dan alat tulis).
4.      Mengecek apakah keadaan (cuaca) pada hari pelaksanaan pengamatan bagus atau tidak (misalnya mendung, hujan atau terang)
5.      Memastikan bahwa observer siap ketika sedang wawancara dengan narasumber ataupun saat mengamati ayam dan segala yang mempengaruhi kehidupannya.
  1. Tahap Pelaksanaan
Setelah mempersiapkan semua yang diperlukan, saya segera pergi ke rumah tetangga saya yang memiliki peternakan ayam, walaupun hanya peternakan kecil, tapi paling tidak saya bisa mengambil tempat itu sebagai tempat observasi.Saya menjumpai bapak Joni, selaku pemilik ternak ayam tersebut. Dari beliau saya meminta izin untuk menggunakan ternaknya sebagai objek penelitian saya. Dan bapak Joni pun mengijinkan.
Hari pertama observasi, secara terurut saya mengamati bentuk luar (morfologi) pada ayam-ayam yang ada di peternakan pak Joni. Saya mengambil beberapa gambar ayam tersebut dengan kamera Handphone saya.
Hari kedua, ketiga dan keempat saya masih terus mengambil beberapa obyek gambar ayam, serta melakukan sedikit wawancara dengan pak Joni. Saya melihat-lihat keadaan di sekitar lingkungan peternakan dimana ada beberapa ekor ayam yang terlihat sedang mengais-ngais makanan yang ada di tanah, ada pula beberapa ekor ayam yang menggerombol berteduh di bawah pohon pisang, karena hari yang panas serta tetap mencari makanan di sekitarnya.
Hari terakhir observasi di tempat pak Joni, saya mengajukan cukup banyak pertanyaan mengenai perkembangbiakkan ayam-ayam peliharaannya. Saya juga mengambil gambar anak ayam yang masih kecil yang hidupnya dipisahkan dari induknya, yaitu dengan cara ditaruh di box tertentu. Anak-anak ayam dari satu induk ditaruh di box yang telah diberi makanan ayam (pur) yang ditaruh di pakan (tempat makanan ayam) yang dicampur dengan air. Di dalam box tersebut juga diberi lampu kecil sebagai penerang dan penghangat tubuh anak-anak ayam tersebut. Tujuannya ialah agar tidak mudah terserang penyakit.anak-anak ayam tersebut langsung dipisahkan dari induknya setelah satu hari menetas. Setelah satu bulan kemudian, baru dilepas dari box/ kotak tersebut untuk hidup mandiri di lingkungan yang lebih luas.
  1. Tahap Pengamatan (Observasi)
Dari pelaksanaan tersebut saya mulai mengamati bagaimanakah bentuk luar (morfologi) ayam yaitu dari hasil gambar yang telah saya ambil dari kamera handphone saya.
Saya juga mengamati bagaimanakah adaptasi (perilaku) ayam yang ada di sekitar lingkungan peternakan pak Joni. Dari hasil wawancara dengan pak Joni, saya juga mendapatkan sedikit info mengenai perkembangbiakan (siklus kehidupan) ayam, mulai dari proses embriologi, cara makan, fisik yang terdapat pada ayam, serta perilaku pada ayam.
  1. Tahap analisa Data
Penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisa deskripsi kualitatif. Deskripsi kualitatif di sini bukanlah dilihat dari jumlah atau hitungan keseluruhan populasi ayam itu sendiri. Tapi dengan penjelasan dari keterangan-keterangan yang berkaitan dengan perkembangbiakan ayam itu sendiri.















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Morfologi Ayam (bentuk luar)
Secara fisik luarnya, ayam memiliki bentuk agak mirip seperti burung. Dalam hal ini ayam termasuk dalam kelas aves (unggas). Memiliki paruh yang pendek, kaki untuk berlari dan mengais, mempunyai sayap juga. Jika burung dapat menggunakan sayapnya untuk terbang, sedangkan ayam hanya bisa terbang dalam jarak yang pendek. Misalnya, dari atas pagar yang rendah terbang ke tanah.
Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin. Maksudnya antara ayam jantan dengan ayam netina mempunyai morfologi yang berbeda. Pada ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, mempunyai bulu yang lebat, mempunyai tombel besar, jalu pada cakar di kakinya yang digunakan untuk menyerang dan untuk berjalan di tanah kering, mempunyai ekor yang panjang dan menjuntai.
Sedangkan pada ayam betina berukuran lebih kecil daripada ayam jantan, mempunyai bulu ayam yang lebat dengan tombel (jengger) yang kecil, mempunyai jalu yang pendek atau nyaris tidak kelihatan dan mempunyai ekor  yang pendek.
  1. Perilaku Ayam
Sebagai hewan peliharaan, ayam bisa mengikuti kemana manusia membawanya. Hewan ini sangat adaptif dan bisa dikatakan dapat hidup di sembarang tempat, asalkan tersedia makanan baginya. Perilaku ayam dalam perkembangbiakannya itu bermacam-macam. Pada saat akan melakukan perkawinan dengan ayam betina, ayam jantan menampakkan tanda-tanda. Tanda-tanda itu misalnya saja dengan berkokok,lalu mengepakkan kedua sayapnya, tujuannya untuk menunjukkan kejantanannya. Hal tersebut dilakukan juga karena ada rangsangan dari ayam betina.
Saat mempunyai anak, ayam betina melindungi anak-anaknya dengan bulu-bulunya, di bawah dadanya. Jika terdapat gangguan dari luar, maka induk akan mengepakan sayapnya, lalu mematuk makhluk lain yang menyerangnya. Saat anak ayam akan makan, induk memecahkan biji-bijian, lalu dimakan oleh anaknya. Akan tetapi anak ayam tidak boleh mengikuti kemanapun induknya pergi, karena bisa menyebabkan kematian. Bisa karena faktor di luar lingkungan (persaingan) ataupun dari faktor intern (misalnya, tertular penyakit induknya).
  1. Proses Embriologi Ayam
Siklus kehidupan ayam dimulai dengan adanya proses embriologi. Proses embriologi pada ayam sedikit berbeda dengan burung pada umumnya walaupun ayam berasal dari satu kelas yang sama, yaitu kelas aves.
Proses embriologi ayam dimulai dari terbentuk telur, lalu mengalami fase-fase perkembangan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Indospermae (calon individu baru) menggunakan omnion (cadangan makanan/ kuning telur yang terdapat pada telur) sebagai nutrisi.
2.      Lalu sel melakukan pembelahan dengan pembelahan dari sel menjadi n2, dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a.       Tahap Blastula
b.      Tahap Grastula
c.       Tahap Morula
3.      Lalu terdiferensiasi (mengalami perkembangan / pembentukan epidermis, meso, dan endodermis).

Maka dapat disimpulkan secara umum dari prses embriologi ayam yaitu dengan siklus:









 

            Sel                 Jaringan                     Organ                   Individu baru















BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
                        Ayam adalah salah satu jenis hewan dari kelas Aves (unggas) yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia karena hidupnya pun di sekitar lingkungan manusia. Dalam siklus kehidupan ayam terdapat berbagai proses yang mempengaruhi perkembangbiakan ayam itu sendiri. Di antaranya dari segi morfologi ayam, perilaku ayam dan proses embriologi ayam. Berbagai hal juga perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ayam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daur / siklus kehidupan ayam itu perlu juga diperhatikan oleh kita sebagai manusia, apalagi orang yang berprofesi sebagai peternak ayam.
B.     SARAN
                        Dari kesimpulan tersebut bisa didapat berbagai saran bagi kita sebagai makhluk yang peduli dengan keadaan makhluk lain di sekitar kita juga bagi si peternak ayam. Kita harus memperhatikan bagaimanakah perilaku ayam, apakah sehat atau terserang penyakit. Kita juga perlu mewaspadai tertularnya penyakit atau virus dari induk ke anak-anak ayam. Sehingga kita dapat menyusun langkah-langkah bagaimanakah agar perkembangbiakan ayam yang dipelihara bisa tetap utuh dan lancar.





DAFTAR PUSTAKA

Ø  Djanubito, Prof.Dr. Mukayat, Brotowidjoyo, M.Sc.1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Ø  A.Viile, Claude, Waren F. Walker, Robert, D. Burnes. 1999. General Zoology. Jakarta: Erlangga.
Ø  Nurul H, Arif. 2008. Buku Pintar Flora dan Fauna Untuk Anak Cerdas. Jakarta: Kids Book.
Ø  Goenarso, Darmadi, dr. Suripto. 2003. Fisiologi Hewan. Jakarta : UT.
Ø  Ciptono, M.Si, Ir. 2007. Hand-out Kuliah Histologi-Embriologi Hewan. Yogyakarta: UNY.
Ø  Ferianta Fachrul, Dr. Melati. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.









1 komentar: